You’ve got to have someone who loves your body. Who doesn’t define you, but sees you. Who loves what he sees. Who you don’t have to struggle to be good enough for.
 Deb Caletti (via thresca)

(via lovebot)


unggulpristian:

let’s get lost. anywhere we don’t care.. (?) at Soekarno-Hatta International Airport (CGK) – View on Path.

unggulpristian:

let’s get lost. anywhere we don’t care.. (?) at Soekarno-Hatta International Airport (CGK) – View on Path.


hard, you know

hard, you know


mauuu semuaaa

mauuu semuaaa

(via fuckyeahvansshoes)


Seratus itu sempurna, satu itu lebih, lebih sempurna.

Seratus itu sempurna, satu itu lebih, lebih sempurna.


Cintaku terlalu renta. Berdiri dari jatuh saja tidak bisa.


It’s always been you :)

Medan, 29 Agustus 2012

"Ini minum siapa?" tanya nya ke semua yang hadir pada sore itu. Seketika tawa yang tadi lepas dariku berubah menjadi sikap yang gugup dan aneh, mataku tertuju padanya dan berkata, "Punyaku, minum aja" sontak semua teman kami langsung berseloroh dan mengejek, bahkan salah satu dari mereka berkata, "Yaampun modus banget sih lo, udah tau sok gak tau" yang diledek cuma bisa senyum salah tingkah sambil menyedot minuman green tea dingin yang aku pesan sebelum mereka datang. Rasanya seperti dejavu. Iya, seperti pernah mengalami hal itu sebelumnya, dan itu memang benar. Hal yang sama pernah terjadi tepat di hari ulangtahunku sebelas tahun yang lalu. Waktu itu aku masih sebelas tahun, dan dia ada di perayaan ulangtahunku yang ke sebelas. Dia menanyakan hal yang sama, "Ini minum siapa?" betapa kejadian itu seperti membawaku kembali ke masa lalu, aku hanya bisa mengenangnya sambil tersenyum kecut. Betapa waktu cepat berlalu. Bedanya aku yang waktu itu masih kecil dan polos menjadi kesal karena dia minum dari sedotan yang sama. Biasa, anak perempuan waktu SD alergi sama cowok.

"Kita duduk di sana aja beb" ujarku pada Dwy, teman dari kecil yang masih awet sampai sekarang yang kemudian langsung tidak disetujuinya, "Ah gak mau, gak asik liat ke pintu". Ya sudah aku pun mengalah, kami duduk menghadap lukisan patung budha yang tertimpa cahaya lampu yang temaram. Nama cafe ini Ubud, tempatnya cozy, nyaman, dan tidak terlalu ramai. Pas untuk kami yang memang tidak mau tempat yang terlalu ramai. Setengah jam berlalu tapi tidak ada tanda-tanda kemunculan mereka. Ya, mereka itu teman-teman saya dari SD yang sedang mudik ke Medan dan berjanji untuk mengadakan reuni kecil-kecilan.

"Beb, nanti begitu Ilham datang aku pergi bentar ya nemenin dia nyari barang" kata Dwy. "Yah gak asik banget sih, abis makan aja kek" aku mulai sedikit kesal. "Gak bisa, tar kita kelamaan makan" kata Dwy lagi. "Yaudah deh" dengan sedikit manyun aku pun setuju, entah kenapa aku tidak curiga sama sekali. gak berapa lama mereka datang, aku masih mencoba mengupayakan sikap senormal dan wajah secerah mungkin walau dalam hatiku berkecamuk. sebenarnya aku gak siap ketemu dia lagi setelah lama kami tidak pernah bertemu. Dwy langsung cabut ke luar sama Ilham, tinggal aku yang harus pasang tampang senyum dan ramah ke yang lain, untung teman yang satu lagi dateng menyelamatkanku dari kegaringan yang melanda. "Daripada lama nunggu mending pesen aja dulu kalo udah laper" kataku memecah keheningan dan kekakuan yang terjadi. Waktu mereka sibuk liat-liat menu, akupun sibuk bbm si Dwy.

cepetan dikit, kalo lama aku bunuh nih

iye bawel, sabar lah ngobrol-ngobrol aja dulu

Aku udah mulai gelisah gara-gara si Dwy sama Ilham ga kunjung keliatan batang idungnya, aku coba noleh ke belakang, ke arah pintu, eh ternyata mereka udah di belakang aku aja sambil bawa sekotak gede blackforest lengkap dengan lilin-lilinnya. “HAPPY BIRTHDAY TO YOU” mereka semua nyanyi dan aku mulai salah tingkah dengan setengah melongo. Musik slow di cafe pun berubah jadi lagu happy birthday dan semua pelayan ikut nyanyi. Oke, aku mulai speechless. Gatau harus bilang apa dan bereaksi gimana. Cuma bisa diem melongo kayak orang bego. Mungkin ini efek kelewat hepi.

"Make a wish dooooooong" kata Dwy.. Hmmm.. Lalu aku mulai berdoa..

Tuhan, jika orang di depan ini jodohku, maka kembalikanlah ia padaku..

kemudian aku meniup lilinnya dan memotong kue.. “First cake dong Tik” si Hanif mulai ikutan komentar yang disamber dengan cepat oleh Denny “Iyaa sekalian nostalgia kali” dalam hati aku kampret banget nih bocah pada. Duh. Yang diledek cuma bisa senyum-senyum gak jelas. Oke.. Akhirnya aku duluan yang nyuapin dia karena paksaan anak-anak yang heboh banget itu. Moment itu gak dilewatin gitu aja sama mereka, kamera pun mengarah ke aku dan dia. “Gantian dooong Ji Tika nya yang disuapinn” anak-anak semangat banget kayak suporter di GBK yang kemudian di-amini olehnya, dia mulai ambil sepotong kue dengan garpu dan menyuapkannya ke mulutku. Kue itu terasa duaratus kali lebih enak. Seriously!

Setelah makanan datang dan keadaan kembali agak normal, aku nanya sama Dwy, “Siapa sih otak yang iseng banget bikin surprise segala?” yang ditanya malah nyodorin hapenya dan cuma bilang “Nih baca bbm ku sama si Rozi” oke ini mulai gak lucu. Demi apa dia segini pedulinya setelah aku delete contact bbm nya berulang-ulang dan ketusin dia bahkan gak mau angkat telfonnya. Masih gak ngerti sama tuh anak. Gak bisa ditebak sama sekali.

Gak kerasa udah jam 9 malam, kami pun beranjak ke bawah menuju parkiran. Sementara Dwy dan yang laen lagi beli donat, aku nyariin taxi buat aku sama Dwy pulang ke rumah. Begitu aku balik dan ngajakin Dwy pulang karena taxi nya udah nungguin, ternyata Rozi gak disitu. Rada kecewa sih dan kayaknya semua menangkap kekecewaan itu dari mataku. “Tunggu bentar aja Tik, Rozi cuma ke ATM kok” kata Hanif. “Aduh gak bisa Nif, entar taxi nya pergi. Gak apa-apa deh salam aja” dengan pahit aku mengatakannya.

"Ji, aku pulang dulu, makasih buat malem ini" klik. Telepon aku tutup.

Sepanjang perjalanan pulang malam itu, aku cuma bisa berharap bahwa ini bukan hanya mimpi..